Alhamdulillah, koneksi Internet di asrama untuk ke Google, Twitter, FB, dll tidak bisa. ‘The requested URL could not be retrieved’. Padahal sebagian besar tugas dapat dikerjakan dengan internet. Tapi, ya sudahlah, syukuri saja musibahnya, mungkin dengan errornya jaringan ada ‘sesuatu’ dari Allah untuk kita. Amin…

Oleh / NIM : Galuh Kusuma Wardhani/A24110017

Bicara tentang pertanian di Indonesia, yang terbayang adalah hamparan sawah yang luas. Namun sebetulnya pertanian mencakup banyak subsektor lain. Sebuah anugerah  yang luar biasa dari Tuhan yang telah memberikan kepada negeri ini kekayaan alam yang melimpah. Iklim tropis yang ada di Indonesia mendukung berkembangnya sektor pertanian dengan sub sektor pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan kehutanan.

Mengenai pertaniannya sendiri, Indonesia terkenal dengan negara pertanian atau agraria.Pada sektor pertanian inilah mayoritas penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya. Mulai dari sebagai petani produsen, pedagang pengumpul hingga pedagang eceran yang langsung berhubungan dengan konsumen . Menurut pendapat saya pertanian di Indonesia akhir akhir mengalami penurunan, banyak hal yang menyebabkan itu semua terjadi, diantaranya yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia adalahi pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani, kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada beras yang tidak meningkatkan kesejahteraan petani dan kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Petani, menuntut pemerintah untuk dapat lebih serius lagi dalam upaya penyelesaian masalah pertanian di Indonesia demi terwujudnya pembangunan pertanian Indonesia yang lebih maju demi tercapainya kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Potensi pertanian Indonesia memang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini pertanian Indonesia masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional.sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. manisnya sektor pertanian saat ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja yang notabene merupakan pihak minoritas. Mereka adalah para pedagang/ penyalur produk pertanian. Sementara petani sebagai produsen masih belum dapat merasakan nikmatnya usaha mereka.

Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan. Oleh sebagian besar petani Indonesia, kegiatan pertanian masih dianggap sebagai rutinitas turun temurun. Petani masih belum berorientasi pada aspek bisnis untuk mendapatkan keuntungan besar.  Bagi sektor pertanian menjadi satu-satunya harapan sebagai sumber pemasukan bagi mereka dan keluarga. Akan tetapi ternyata pertanian tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Bebarapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi adalah seperti yang dikemukakan di atas yakni pembaruan agraria (konversi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian) yang semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih bermutu bagi petani, kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, dll.

Banyak hal yang harus kita lakukan untuk lebih memajukan dan memaksimalkan pertanian Indonesia. Kesejahteraan petani dan keluarganya merupakan tujuan utama yang menjadi prioritas dalam melakukan program apapun. Salah satu caranya adalah dengan peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi pertanian, pengembangan program studi bidang pertanian yang mampu menarik generasi muda, serta program-program lain yang bertujuan untuk menggali potensi, minat, dan bakat generasi muda di bidang pertanian serta melahirkan generasi muda yang mempunyai sikap ilmiah, professional, kreatif, dan kepedulian sosial yang tinggi demi kemajuan pertanian Indonesia. Selain  itu adalah pelatihan pelatihan pada para petani kita, bagaimana cara pengolahan lahan secara benar, pembudidayaan dan pemilihan bibit yang baik , penggunaan teknologi pertanian, dll. MARI BANGUN PERTANIAN INDONESIA!!.

Pada penugasan MPKMB kali ini, akan saya sedikit paparkan tentang kondisi dan produk unggulan daerah Ngawi dan Magetan. Pertanian adalah sektor strategis bagi pembangunan Negara berkembang. Pertanian juga menjadi penyokong ketahanan pangan yang sekaligus menjadi lapangan pekerjaan yang menjanjikan bagi pembangunan pedesaan.

Pada Kabupaten Ngawi, pembangunan pertanian lebih difokuskan dalam rangka meningkatkan pendapatan para petaninya mengingat jumlah penduduknya yang mayoritas petani di mana keseluruhan penduduknya sekitar 900 ribu jiwa, yang tersebar di 19 kecamatan. Dan prospek pertanian sangat baik karena didukung oleh iklim tropis basah dan curah hujannya 1.715 mm per tahunnya yang memungkinkan untuk berkembangnya pertanian di sini. Tidak mengherankan jika Kabupaten Ngawi menjadi salah satu wilayah penyangga pangan di Jawa Timur maupun nasional. Adapun lahan sawahnya 45 ribu hektar lebih berupa sawah dengan irigasi teknis 45 ribu hektar lebih dan selebihnya berupa lahan kering
Untuk Ngawi sendiri sektor pertanian masih merupakan sektor andalan . Betapa tidak, dari info yang saya cari dari 129.598 ha luas wilayah Kabupaten Ngawi 72 persen diantaranya berupa lahan sawah, hutan dan tanah perkebunan. Sektor ini menyerap sekitar 76 persen dari total tenaga kerja yang ada. Dari 5 subsektor pertanian (tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan), subsektor tanaman pangan khususnya komoditi padi merupakan penyumbang terbesar terhadap total nilai produksi pertanian. Komoditi tanaman pangan lainya selain padi adalah beras organik, kedelai ,jagung dan melon.
Untuk pertama kalinya sejak lima tahun terakhir produksi padi mengalami kenaikan. Pada tahun 2000 Kabupaten Ngawi menempati urutan keempat seJawa Timur dibawah Kabupaten Jember, Banyuwangi, dan Lamongan. Namun demikian sejak tahun 2001 produksi padi terus mengalami penurunan. Pada tahun 2001 produksi mencapai 5.922,58 ton, pada tahun 2002 5.499,47 ton dan pada tahun 2003 turun lagi menjadi 5.210,926 ton. Pada tahun 2004 ini produksi padi mencapai 5.573,375 ton atau meningkat sebesar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian diharapkan kenaikan tersebut dapat dipertahankan pada tahun berikutnya sehingga bisa menyamai atau malah bisa melampaui produksi pada tahun 2000.dan benar saja pada tahun 2009 produksi padi mengalami kenaikan dari 6.044,44 ton pada tahun 2006 menjadi 6.386,55 ton. Diharapkan kenaikan tersebut terus berlanjut. Kenaikan produksi tersebut salah satunya didorong oleh bertambahnya luas panen.
Namun untuk beberapa waktu terakhir ini kondisi lahan pertanian di daerah Ngawi mengalami penurunan kualitas kesuburan tanah, baik struktur dan teksturnya. Tanah semakin miskin unsur hara, lebih keras, tidak dapat mengikat air dan sebagainya. Belum lagi adanya peledakan hama yang disebabkan oleh semakin resistennya hama akibat pemakaian pestisida kimia yang berlebihan. Hal tersebut membuat produksi pertanian di Ngawi juga menurun kembali.
Melihat kondisi seperti itu, di Kabupaten Ngawi dibentuklah Paguyuban Sri Ngawi yaitu tempat belajar para petani yang sadar akan bahayanya penggunaan pupuk/pestisida kimia, sekaligus memperkenalkan sistem baru untuk pertanian khususnya pertanian padi. Diharapkan dengan adanya paguyuban tersebut produksi pertanian di daerah Ngawi bisa lebih meningkat.
Selanjutnya adalah kondisi pertanian di wilayah Magetan, Produksi tanaman pangan dan hortikultura di wilayah ini adalah jagung ,mangga, , dan jeruk Pamelo,

wilayah Magetan terkenal dengan sebutan Bumi jeruk Pamelo. Karena memang komoditi jeruk Pamelo yang paling menonjol di daerah Magetan. Daerah ini adalah sentra tingkat nasional jeruk pamelo (Citrus grandis) atau dikenal sebagai jeruk Bali terbesar di Indonesia. Jeruk pamelo sudah dikenal di luar propinsi Jawa Timur. Jeruk Magetan tidak hanya jeruk Pamelo tetapi juga ada jeruk Srinyonya atau biasa disebut dengan jeruk nyonya. Kedua jenis jeruk ini panen pada bulan april sampai juni setiap tahunnya, sehingga musim panen ini akan menjadi keuntungan untuk para penanam jeruk.
Dari 16 kecamatan di Magetan, 4 kecamatan, yaitu Bendo, Takeran, Sukomoro, dan Kawedanan atau yang sering disingkat Beta Suka, pusat penanaman jeruk pamelo. Di kecamatan-kecamatan ini pemandangan yang umum terlihat di pekarangan rumah adalah pohon-pohon jeruk. Tiap rumah rata-rata memiliki di atas dua pohon jeruk pamelo. Komoditas jeruk yang penanamannya dimulai sekitar tahun 1950 itu menjadi ciri bagi penduduk di daerah ini khususnya, dan Kabupaten Magetan umumnya..
Selain daerah ini penuh dengan jeruk, juga menjadi salah satu komoditi tanaman tebu sesuai dengan tanahnya yang lebih sulit dialiri air daripada daerah yang lain. Tetapi justru ini yang membuat daerah ini menarik, keseragaman tanaman serta usaha penghijauan tetap berlangsung. Selain jeruk pamelo banyak jenis jeruk lain yang ditanam dan berbuah didaerah ini, seperti jeruk sangkis, jeruk keprok, jeruk bali, dan lain sebagainya. Biasanya buah-buah jeruk ini dikirim keberbagai daerah di Indonesia, tetapi juga tidak jarang di pasarkan ke minimarket atau supermarket sekitar Magetan.
Demikianlah sedikit paparan tentang keadaan pertanian di wilayah Ngawi dan Magetan, semoga informasi yang saya berikan bisa bermanfaaat dan memenuhi tugas MPKMB ’48. Apabila ada kesalahan dalam hal pengetikan dan bahasa saya mohon maaf. Terimakasih.

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Search
Categories
Bookmarks